BAB 1
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Ilmu Budaya Dasar Merupakan suatu Ilmu yang mempelajari tentang dasar-dasar dan pengertian tentang konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah kebudayaan. Istilah IBD (Ilmu Budaya Dasar) ini dikembangkan di indonesia, dimana istilah ini sebagai pengganti istilah Basic Humanities yang berasal dari Bahasa Inggris. Sedangkan menurut Bahasa Latin, istilah itu sendiri berasal dari Kata "Humanus" yang berarti Manusiawi, Berbudaya dan Halus. dimana, dengan mempelajari Humanus, kita manusia akan bisa menjadi pribadi yang lebih manusiawi, berbudaya dan halus.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Sastra dan seni
2. Bagaimana Hubungan Sastra, Seni, dan Ilmu Budaya Dasar
3. Apa saja Nilai-nilai dalam Prosa-Fiksi
1.3 Tujuan Masalah
1. Mengetahui Pengertian Sastra dan Seni
2. Mengetahui Hubungan Sastra, Seni, dan Ilmu Budaya Dasar
3. Mengetahui Nilai-nilai dalam Prosa-Fiksi
BAB 2
Pendahuluan
2.1 Pengertian Sastra
Sastra adalah ungkapan ekpresi manusia berupa karya tulisan atau lisan berdasarkan pemikiran, pendapat, pengalaman, hingga perasaan dalam bentuk yang imajinatif, cerminan kenyataan atau data asli yang dibalut dalam keestetisan melalui media bahasa. sedangkan menurut Wikipedia, Sastra (Sanskerta: शास्त्र, shastra) merupakan Kata Serapan dari Bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Teks Sastra juga tidak hanya teks yang berisikan tentang intruksi ajaran, lebih dari itu dalam Bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.
a. bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari);
b. karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.
Dalam bahasa Inggris kita mengenal kata literature, diserap menjadi literatur ke dalam bahasa Indonesia. Arti literature (menurut kamus online WorldNet) adalah:
a. creative writing of recognized artistic value
b. the humanistic study of a body of literature; “he took a course in French literature”
c. published writings in a particular style on a particular subject; “the technical literature”; “one aspect of Waterloo has not yet been treated in the literature”
d. the profession or art of a writer; “her place in literature is secure”.
Seni adalah suatu ekspresi perasaan manusia yang memiliki unsur keindahan di dalamnya dan diungkapkan melalui suatu media yang sifatnya nyata, baik itu dalam bentuk nada, rupa, gerak, dan syair, serta dapat dirasakan oleh panca indera manusia.
Namun, ada juga yang berpendapat bahwa pengertian seni adalah semua hal yang diciptakan oleh manusia yang mengandung unsur keindahan dan dapat memengaruhi perasaan orang lain.
Menurut Wikipedia, Seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, fungsinya, bentuknya, makna dari bentuknya, dan sebagainya), seperti tari, lukisan, ukiran. Seni meliputi banyak kegiatan manusia dalam menciptakan karya visual, audio, atau pertunjukan yang mengungkapkan Imajinasi, gagasan, atau keperigelan teknik pembuatnya, untuk dihargai keindahannya atau kekuatan emosinya. pada intinya, seni adalah hasil dari aktivitas batin manusia yang diungkapkan dalam bentuk karya yang bisa memengaruhi perasaan manusia lain.
Menurut Wikipedia, Seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, fungsinya, bentuknya, makna dari bentuknya, dan sebagainya), seperti tari, lukisan, ukiran. Seni meliputi banyak kegiatan manusia dalam menciptakan karya visual, audio, atau pertunjukan yang mengungkapkan Imajinasi, gagasan, atau keperigelan teknik pembuatnya, untuk dihargai keindahannya atau kekuatan emosinya. pada intinya, seni adalah hasil dari aktivitas batin manusia yang diungkapkan dalam bentuk karya yang bisa memengaruhi perasaan manusia lain.
2.3 Hubungan Sastra, Seni, dan Ilmu Budaya Dasar
Masalah sastra dan seni sangat erat hubungannya dengan Ilmu Budaya Dasar, karena materi-materi yang diulas oleh Ilmu Budaya Dasar ada yang berkaitan dengan sastra dan seni. Budaya Indonesia sangat menunjukkan adanya sastra dan seni.
Selain itu hubungan antara Ilmu Budaya Dasar dengan sastra adalah sama-sama memiliki objek yang sama yaitu manusia. Sama-sama mempelajari hubungan antar manusia melalui suatu komunikasi yang beraneka ragam macamnya. Bayangkan jika manusia hidup tanpa seni, hidup tanpa bisa menyalurkan ekspresi. Maka akan mengganggu kejiwaan atau psikologis manusia.
2.4 Nilai-nilai dalam Prosa fiksi
Masalah sastra dan seni sangat erat hubungannya dengan Ilmu Budaya Dasar, karena materi-materi yang diulas oleh Ilmu Budaya Dasar ada yang berkaitan dengan sastra dan seni. Budaya Indonesia sangat menunjukkan adanya sastra dan seni.
Selain itu hubungan antara Ilmu Budaya Dasar dengan sastra adalah sama-sama memiliki objek yang sama yaitu manusia. Sama-sama mempelajari hubungan antar manusia melalui suatu komunikasi yang beraneka ragam macamnya. Bayangkan jika manusia hidup tanpa seni, hidup tanpa bisa menyalurkan ekspresi. Maka akan mengganggu kejiwaan atau psikologis manusia.
2.4 Nilai-nilai dalam Prosa fiksi
Sebagai
seni yang bertulang panggung cerita, mau tidak mau karya sastra (prosa fiksi)
langsung atau tidak langsung membawa moral, pesam atau cerita. Dengan perkataan
lain prosa mempunyai nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat sastra antara
lain :
1. Prosa
fisksi memberikan kesenangan
Keistimewaan
kesenagan yang diperoleh dari membaca fiksi adalah pembaca mendapatkan
pengalaman sebagaimana mengalaminya sendiri peristiwa itu atau kejadian yang
dikisahkan. Pembaca dapat mengembangkan imajinasinya untuk mengenal daerah atau
tempat yang asing, yang belum dikunjunginya atau yang tidak mungkin dikunjungi
selama hidupnya. Pembaca juga dapat mengenal tokoh-tokoh yang aneh atau asing
tingkah lakunya atau mungkin rumit perjalanan hidupnya untuk mencapai sukses.
2. Prosa
fiksi memberikan informasi
Fiksi
memberikan sejenis informasi yang tidak terdapat di dalam ensiklopedia. Dalam
novel sering kita dapat belajar sesuatu uang lebih daripada sejarah atau
lampiran jurnalistik tentang kehidupan masa kini, kehidupan masa lalu, bahkan
juga kehidupan yang akan datang atau kehidupan yang asing sama sekali.
3. Prosa
fiksi memberikan warisan kultural
Prosa
fiksi dapat menstimulai imajinasi, dan merupakan sarana yang
tak henti-hentinya dan warisan budaya bangsa. Novel seperti Siti Nurbaya, salah
asuhan, sengsara membawa nikmat, layar terkembang mengungkapkan impian-impian,
harapan-harapan, aspirasi-aspirasi dari generasi yang terdahulu yang seharusnya
dihayati oleh generasi kini. Novel yang berlatar belakang perjuangan revolusi
seperti jalan yang tak ada ujung, misal menggambarkan suatu tindakan heroism yang
mengagumkan dan memberikan kebanggaan, yang oleh generasi muda sekarang tidak
lagi mengalami secara fisik. Dan oleh karena mahasiswa tidak mengalami secara
fisik itulah jiwa kepahlawanan perlu disentuh melalui hasil-hasil sastra.
4. Prosa
memberikan keseimbangan wawasan
Lewat
prosa fiksi seseorang dapat menilai kehidupan berdasarkan pengalaman-pengalaman dengan banyak individu. Fiksi juga memungkinkan lebih banyak kesempatan untuk
memilih respon-respon emosional atau rangsangan aksi yang mungkin sangat
berbeda daripada apa yang disajikan dalam kehidupan sediri.
Adanya
semacam kaidah kemungkinan yang tidak mungkin dalam fiksi inilah yang memungkinkan
pembaca untuk dapat memperluas dan memperdalam persepsi dan wawasannya tentang
tokoh, hidup dan kehidupan manusia. Dari banyak memperoleh pengalaman sastra,
pembaca akan terbentuk keseimbangan wawasannya, terutama dalam menghadapi
kenyataan-kenyataan di luar dirinya yang mungkin sangat berlainan dari
pribadinya. Seorang dokter yang dianggap memiliki status social tinggi, tetapi
tenyata mendatangi perempuan simpanannya walaupun denga alasan-alasan
psikologis, seperti dikisahkan dalam novel belenggu, adalah cintih kemungkinan
yang tidak mungkin. Tetapi justru dari sinilah pembaca memperluas perspektifnya
tentang kehidupan manusia.
Berkenaan
dengan moral, karya sastra dapat dibagi menjadi dua; Karya sastra yang
menyuarakan aspirasi jamannya, dan karya sastra yang menyuarakan gejolak
jamannya. Ada juga yang tentunya menyuarakan keduanya.
Karya
sastra yang menyuarakan aspirasi jmannya mengajak pembaca untuk mengikuti apa
yang dikehendaki jamannya. Kebanyakan karya sastra Indonesia di jaman Jepang
yang dikelompokkan ke dalam kelompok ini.
Karya
sastra yang menyuarakan jamannya, biasa tidak mengajak pembaca untuk melakukan
sesuatu, akan tetapi untuk merenung. Kedua macam karya sastra itu selalu
menyampaikan masalah. Masalah ini disampaikan dengan jalan menyajikan interaksi
tokoh-tokohnya. Masing-masing tokoh mempunyai temperamen, pendirian, dan
kemauan yang berbeda-beda. Perbedaan ini menimbulkan konflik. Konflik dapat
terjadi baik di dalam tokoh sendiri maupun diantara tokoh satu dengan lainnya.
berikut adalah salah satu contoh prosa
Cinta Sejati Seorang Ibu
Wanita itu sudah tua, namun semangat perjuangannya tetap
menyala seperti wanita yang masih muda. Setiap tutur kata yang dikeluarkannya
selalu menjadi pendorong dan bualan orang disekitarnya. Maklumlah, ia memang
seorang penyair dua zaman, maka tidak kurang pula bercakap dalam bentuk syair.
Al-Khansa bin Amru, demikianlah nama wanita itu. Dia merupakan wanita yang
terkenal cantik dan pandai di kalangan orang Arab. Dia pernah bersyair
mengenang kematian saudaranya yang bernama Sakhr :“Setiap mega terbit, dia mengingatkan
aku pada Sakhr, malang. Aku pula masih teringatkan dia setiap mega hilang di ufuk barat Kalaulah tidak kerana terlalu ramai orang menangis di sampingku ke
atas mayat-mayat mereka, nescaya aku bunuh diriku.”
Setelah Khansa memeluk Islam, keberanian dan kepandaiannya
bersyair telah digunakan untuk menyemarakkan semangat para pejuang Islam. Ia
mempunyai empat orang putera yang kesemuanya diajar ilmu bersyair dna dididik
berjuang dengan berani. Kemudian puteranya itu telah diserahkan untuk berjuang
demi kemenangan dan kepentingan Islam. Khansa telah mengajar anaknya sejak
kecil lagi agar jangan takut menghadapi peperangan dan cabaran.Pada tahun 14
Hijrah, Khalifah Umar Ibnul Khattab menyediakan satu pasukan tempur untuk
menentang Farsi. Semua Islam dari berbagai kabilah telah dikerahkan untuk
menuju ke medan perang, maka terkumpullah seramai 41,000 orang tentera. Khansa
telah mengerahkan keempat-empat puteranya agar ikut mengangkat senjata dalam
perang suci itu. Khansa sendiri juga ikut ke medan perang dalam kumpulan
pasukan wanita yang bertugas merawat dan menaikkan semangat pejuan tentera
Islam.
Dengarlah nasihat Khansa kepada putera-puteranya yang
sebentar lagi akan ke medan perang, “Wahai anak-anakku! Kamu telah memilih
Islam dengan rela hati. Kemudian kamu berhijrah dengan sukarela pula. Demi
Allah, yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya kamu sekalian adalah
putera-putera dari seorang lelaki dan seorang wanita. Aku tidak pernah
mengkhianati ayahmu, aku tidak pernah memburuk-burukkan saudara-maramu, aku
tidak pernah merendahkan keturuna kamu, dan aku tidak pernah mengubah
perhubungan kamu. Kamu telah tahu pahala yang disediakan oleh Allah kepada kaum
muslimin dalam memerangi kaum kafir itu. Ketahuilah bahwasaya kampung yang
kekal itu lebih baik daripada kampung yang binasa.”Kemudian Khansa membacakan
satu ayat dari surah Ali Imran yang bermaksud, “Wahai orang yang beriman!
Sabarlah, dan sempurnakanlah kesabaran itu, dan teguhkanlah kedudukan kamu, dan
patuhlah kepada Allah, moga-moga menjadi orang yang beruntung.” Putera-putera
Khansa tertunduk khusyuk mendengar nasihat bonda yang disayanginya.
Seterusnya Khansa berkata, “Jika kalian bangun esok pagi,
insya Allah dalam keadaan selamat, maka keluarlah untuk berperang dengan musuh
kamu. Gunakanlah semua pengalamanmu dan mohonlah pertolongan dari Allah. Jika
kamu melihat api pertempuran semakin hebat dan kamu dikelilingi oleh api
peperangan yang sedang bergejolak, masuklah akmu ke dalamnya. Dan dapatkanlah
puncanya ketika terjadi perlagaan pertempurannya, semoga kamu akan berjaya
mendapat balasan di kampung yang abadi, dan tempat tinggal yang kekal.”Subuh
esoknya semua tentera Islam sudah berada di tikar sembahyang masing-masing
untuk mengerjakan perintah Allah iaitu solat Subuh, kemudian berdoa moga-moga
Allah memberikan mereka kemenangan atau syurga. Kemudian Saad bin Abu Waqas
panglima besar Islam telah memberikan arahan agar bersiap-sedia sebaik saja
semboyan perang berbunyi. Perang satu lawan satu pun bermula dua hari. Pada
hari ketiga bermulalah pertempuran besar-besaran. 41,000 orang tentera Islam
melawan tentera Farsi yang berjumlah 200,000 orang. Pasukan Islam mendapat
tentangan hebat, namun mereka tetap yakin akan pertolongan Allah .Putera-putera
Khansa maju untuk merebut peluang memasuki syurga. Berkat dorongan dan nasihat
dari bondanya, mereka tidak sedikit pun berasa takut. Sambil mengibas-ngibaskan
pedang, salah seorang dari mereka bersyair,
“Hai saudara-saudaraku! Ibu tua kita yang banyak pengalaman
itu, telah memanggil kita semalam dan membekalkan nasihat. Semua mutiara yang
keluar dari mulutnya bernas dan berfaedah. Insya Allah akan kita buktikan
sedikit masa lagi.”
Kemudian ia maju menetak setiap musuh yang datang.
Seterusnya disusul pula oleh anak kedua maju dan menentang setiap musuh yang
mencabar. Dengan semangat yang berapi-api ia bersyair,“Demi Allah! Kami tidak
akan melanggar nasihat dari ibu tua kami Nasihatnya wajib ditaati dengan ikhlas
dan rela hati Segeralah bertempur, segeralah bertarung dan menggempur
mush-musuh bersama-sama Sehingga kau lihat keluarga Kaisar musnah.”
Anak Khansa yang ketiga pula segera melompat dengan
beraninya dan bersyair,
“Sungguh ibu tua kami kuat keazamannya, tetap tegas tidak
goncang Beliau telah menggalakkan kita agar bertindak cekap dan berakal cemerlang
Itulah nasihat seorang ibu tua yang mengambil berat terhadap anak-anaknya
sendiri Mari! Segera memasuki medan tempur dan segeralah untuk mempertahankan
diri Dapatkan kemenangan yang bakal membawakegembiraan di dalam hati Atau
tempuhlah kematian yang bakal mewarisi kehidupan yang abadi.”Akhir sekali anak
keempat menghunus pedang dan melompat menyusul abang-abangnya. Untuk menaikkan
semangatnya ia pun bersyair,
“Bukanlah aku putera Khansa’, bukanlah aku anak jantan Dan
bukanlah pula kerana ‘Amru yang pujiannya sudah lama terkenal Kalau aku tidak
membuat tentera asing yang berkelompok-kelompok itu terjunam ke jurang bahay,
dan musnah mangsa oleh senjataku.”
Bergelutlah keempat-empat putera Khansa dengan tekad bulat
untuk mendapatkan syurga diiringi oleh doa munajat bondanya yang berada di
garis belakang. Pertempuran terus hebat. Tentera Islam pada mulanya kebingungan
dan kacau kerana pada mulanya tentera Farsi menggunakan tentera bergajah di
barisan hadapan, sementara tentera berjalan kaki berlindung di belakang
binatang tahan lasak itu. Namun tentera Islam dapat mencederakan gajah-gajah
itu dengan memanah mata dan bahagian-bahagian lainnya. Gajah yang cedera itu
marah dengan menghempaskan tuan yang menungganginya, memijak-mijak tentera
Farsi yang lannya. Kesempatan ini digunakan oleh pihak Islam untuk memusnahkan
mereka. Panglima perang bermahkota Farsi dapat dipenggal kepalanya, akhirnya
mereka lari lintang-pukang menyeberangi sungai dan dipanah oleh pasukan Islam
hingga air sungai menjadi merah. Pasukan Farsi kalah teruk, dari 200,000
tenteranya hanya sebahagian kecil saja yang dapat menyelamatkan diri.Umat Islam
lega. Kini mereka mengumpul dan mengira tentera Islam yang gugur. Ternyata yang
beruntung menemui syahid di medan Kadisia itu berjumlah lebih kurang 7,000
orang. Dan daripada 7,000 orang syuhada itu terbujur empat orang adik-beradik
Khansa. Seketika itu juga ramailah tentera Islam yang datang menemui Khansa
memberitahukan bahwa keempat-empat anaknya telah menemui syahid. Al-Khansa
menerima berita itu dengan tenang, gembira dan hati tidak bergoncang. Al-Khansa
terus memuji Allah dengan ucapan,“Segala puji bagi Allah, yang telah
memuliakanku dengan mensyahidkan mereka, dan aku mengahrapkan darii Tuhanku,
agar Dia mengumpulkan aku dengan mereka di tempat tinggal yang kekal dengan
rahmat-Nya!”
Al-Khansa kembali semula ke Madinah bersama para perajurit
yang masih hidup dengan meninggalkan mayat-mayat puteranya di medan pertempuran
Kadisia. Dari peristiwa peperanan itu pula wanita penyair ini mendapat gelaran
kehormatan ‘Ummu syuhada yang ertinya ibu kepada orang-orang yang mati syahid.”
berikut adalah salah satu contoh Puisi
Surat Ini Adalah Sebuah Sajak Terbuka
(Taufik Ismail) 1965
Surat ini adalah sebuah sajak terbuka
Ditulis pada sebuah sore yang biasa. Oleh
Seorang warganegara biasa
Dari republik ini
Surat ini ditujukan kepada
Penguasa-penguasa negeri ini. Mungkin dia
Bernama Presiden. Jenderal. Gubernur.
Barangkali dia Ketua MPRS
Taruhlah dia anggota DPR
Atau pemilik sebuah perusahaan politik
(bernama partai)
Mungkin dia Mayor, Camat atau Jaksa
Atau Menteri. Apa sajalah namanya
Malahan mungkin dia saudara sendiri
Jika ingin saya tanyakan adalah
Tentang harga sebuah nyawa di negara kita
Begitu benarkah murahnya? Agaknya
Setiap bayi dilahirkan di Indonesia
Ketika tali-nyawa diembuskan Tuhan ke pusarnya
Dan menjeritkan tangis-bayinya yang pertama
Ketika sang ibu menahankan pedih rahimnya
Di kamar bersalin
Dan seluruh keluarga mendoa dan menanti ingin
Akan datangnya anggota kemanusiaan baru ini
Ketika itu tak seorangpun tahu
Bahwa 20, 22 atau 25 tahun kemudian
Bayi itu akan ditembak bangsanya sendiri
Dengan pelor yang dibayar dari hasil bumi
Serta pajak kita semua
Di jalan raya.di depan kampus atau di mana saja
Dan dia tergolek di sana jauh dari ibu, yang
Melahirkannya. Jauh dari ayahnya
Yang juga mungkin sudah tiada
Bayi itu pecahlah dadanya. Mungkin tembus keningnya
Darah telah mengantarkannya ke dunia
Darah kasih sayang
Darah lalu melepasnya dari dunia
Darah kebencian
Yang ingin saya tanyakan adalah
Tentang harga sebuah nyawa di negara kita
Begitu benarkah gampangnya?
Apakah mesti pembunuhan itu penyelesaian
Begitu benarkah murahnya? Mungkin sebuah
Nama lebih penting
Disiplin tegang dan kering
Mungkin pengabdian kepada negara asing
Lebih penting
Mungkin
Surat ini adalah sebuah sajak terbuka
Maafkan para studen sastra. Saya telah
Menggunakan bahasa terlalu biasa
Untuk puisi ini. Kalaulah ini bisa disebut puisi
Maalkan saya menggunakan bahasa terlalu biasa
Karena pembunuhan-pembunuhan di negeri inipun
Nampaknya juga sudah mulai terlalu biasa
Kita tak bisa membiarkannya lebih lama)
Kemudian kita dipenuhi pertanyaan
Benarkah nyawa begitu murah harganya?
Untuk suatu penyelesaian
Benarkah harga-diri manusia kita
Benarkah kemanusiaan kita
Begitu murah untuk umpan sebuah pidato
Sebuah ambisi
Sebuah ideologi
Sebuah coretan sejarah
Benarkah?
BAB 3
Penutup
Analisis
(Taufik Ismail) 1965
Surat ini adalah sebuah sajak terbuka
Ditulis pada sebuah sore yang biasa. Oleh
Seorang warganegara biasa
Dari republik ini
Surat ini ditujukan kepada
Penguasa-penguasa negeri ini. Mungkin dia
Bernama Presiden. Jenderal. Gubernur.
Barangkali dia Ketua MPRS
Taruhlah dia anggota DPR
Atau pemilik sebuah perusahaan politik
(bernama partai)
Mungkin dia Mayor, Camat atau Jaksa
Atau Menteri. Apa sajalah namanya
Malahan mungkin dia saudara sendiri
Jika ingin saya tanyakan adalah
Tentang harga sebuah nyawa di negara kita
Begitu benarkah murahnya? Agaknya
Setiap bayi dilahirkan di Indonesia
Ketika tali-nyawa diembuskan Tuhan ke pusarnya
Dan menjeritkan tangis-bayinya yang pertama
Ketika sang ibu menahankan pedih rahimnya
Di kamar bersalin
Dan seluruh keluarga mendoa dan menanti ingin
Akan datangnya anggota kemanusiaan baru ini
Ketika itu tak seorangpun tahu
Bahwa 20, 22 atau 25 tahun kemudian
Bayi itu akan ditembak bangsanya sendiri
Dengan pelor yang dibayar dari hasil bumi
Serta pajak kita semua
Di jalan raya.di depan kampus atau di mana saja
Dan dia tergolek di sana jauh dari ibu, yang
Melahirkannya. Jauh dari ayahnya
Yang juga mungkin sudah tiada
Bayi itu pecahlah dadanya. Mungkin tembus keningnya
Darah telah mengantarkannya ke dunia
Darah kasih sayang
Darah lalu melepasnya dari dunia
Darah kebencian
Yang ingin saya tanyakan adalah
Tentang harga sebuah nyawa di negara kita
Begitu benarkah gampangnya?
Apakah mesti pembunuhan itu penyelesaian
Begitu benarkah murahnya? Mungkin sebuah
Nama lebih penting
Disiplin tegang dan kering
Mungkin pengabdian kepada negara asing
Lebih penting
Mungkin
Surat ini adalah sebuah sajak terbuka
Maafkan para studen sastra. Saya telah
Menggunakan bahasa terlalu biasa
Untuk puisi ini. Kalaulah ini bisa disebut puisi
Maalkan saya menggunakan bahasa terlalu biasa
Karena pembunuhan-pembunuhan di negeri inipun
Nampaknya juga sudah mulai terlalu biasa
Kita tak bisa membiarkannya lebih lama)
Kemudian kita dipenuhi pertanyaan
Benarkah nyawa begitu murah harganya?
Untuk suatu penyelesaian
Benarkah harga-diri manusia kita
Benarkah kemanusiaan kita
Begitu murah untuk umpan sebuah pidato
Sebuah ambisi
Sebuah ideologi
Sebuah coretan sejarah
Benarkah?
BAB 3
Penutup
Analisis